Sebuah pengumuman di Larvik menjadwalkan kunjungan priestess Freya seminggu sebelum Belleteyn. Orang sakit, penderita mimpi buruk, ibu hamil, dan perempuan yang anaknya sakit diajak mendatangi rumah jarl untuk menerima bantuan dengan pembayaran kecil. Pengumuman Freya's Priestesses' Visit dalam The Witcher 3: Wild Hunt memperlihatkan pelayanan agama yang menjangkau kebutuhan sehari-hari. Untuk menemui para pelayan dewi, penduduk tidak selalu harus pergi ke kuil.
![]() |
| Pengumuman Larvik menawarkan bantuan priestess dengan pembayaran kecil, termasuk bagi ibu hamil dan perempuan dengan anak yang sakit. |
Di rumah jarl, priestess, atau pendeta perempuan, bersedia menerima penduduk yang membutuhkan bantuan menghadapi kehamilan, penyakit, dan mimpi buruk. Pengumuman itu tidak menjanjikan kesembuhan bagi semua orang. Yang terlihat adalah jenis bantuan yang ditawarkan atas nama Freya, serta kesediaan para pelayannya untuk mendatangi orang yang membutuhkan.
Bantuan tersebut merupakan salah satu bentuk hubungan dengan Freya. Ada pembayaran untuk pelayanan, sumpah bagi perempuan yang memilih mengabdi, dan aturan bagi pengunjung tempat suci. Ketiganya mempunyai ketentuan masing-masing. Merawat kehidupan juga berarti menjaga orang dan tempat yang memungkinkan pelayanan itu berlangsung. Ketika taman Freya dipakai untuk kepentingan pencarian Ciri, kewajiban tersebut menghadapi persoalan yang lebih tajam: siapa yang berhak mengizinkan penggunaannya, dan siapa yang menanggung kerusakan setelah para pencari pergi?
Bantuan dan Kewajiban kepada Ibu Agung
Buku Beliefs of Skellige: Freya menempatkan pemujaan Freya dalam tradisi Great Mother, atau Ibu Agung, dan menyebut Melitele sebagai padanannya di Continent. Keduanya dipuja sebagai dewi yang memelihara kehidupan, tetapi perbandingan itu tidak menyatukan kultus mereka menjadi satu organisasi. Di Skellige, Freya mempunyai tempat suci, pelayan, dan kebiasaan pemujaannya sendiri.
Freya digambarkan melalui tiga aspek, yakni perawan, ibu, dan perempuan tua. Aspek ibu mendapat penekanan pada gambaran dewi sebagai perempuan hamil yang mengenakan kalung emas dengan berlian Brisingamen. Kesuburan, cinta, keindahan, dan kelimpahan berada dalam wilayahnya. Ia juga menjadi pelindung orang yang meramal atau mempunyai kemampuan melihat sesuatu di luar pengetahuan biasa. Atribut itu mempertemukan harapan akan kelahiran dan kesejahteraan dengan keinginan mengetahui apa yang belum terjadi.
Perlindungan Freya juga diharapkan oleh para pejuang dan keluarga yang mereka tinggalkan. Menurut buku yang sama, para pejuang berdoa sebelum berangkat ke laut, sedangkan istri mereka memohon agar suaminya kembali. Di satu sisi ada orang yang akan menghadapi bahaya, di sisi lain ada orang yang menunggu keselamatan seseorang yang tidak dapat mereka jaga sendiri. Doa menampung harapan keduanya, tanpa menjamin setiap perjalanan berakhir dengan kepulangan.
Namun, bahasa keibuan dalam agama Freya tidak hanya menawarkan ketenteraman. The Cult of Freya mengajarkan kesetiaan dalam berbagai keadaan hidup dan menjanjikan penghiburan dari sang ibu. Teks itu juga memperingatkan orang yang melanggar ajarannya tentang terputusnya kasih yang memberi kehidupan. Jika tidak bertobat dan kembali, ancaman kutukan bahkan menjangkau garis keturunan pelanggar. Ini merupakan bahasa doktrin, bukan bukti bahwa setiap ketidakpatuhan di dunia game selalu menghasilkan hukuman magis.
Bagi pengikut Freya, kedekatan dengan sang ibu disertai tuntutan kesetiaan. Tuntutan dalam buku ajaran itu perlu dibedakan dari ketentuan pelayanan di Larvik. Pengumuman kunjungan priestess menyebut pembayaran kecil, tetapi tidak menyatakan bahwa penerima bantuan harus menerima seluruh doktrin Freya. Bantuan sehari-hari dan kewajiban seorang pemuja hadir dalam agama yang sama, dengan ketentuan yang berbeda.
Tempat Suci Mempunyai Penjaga
Kuil dan taman suci Freya berada di Hindarsfjall. Beliefs of Skellige: Freya menyebut hutan suci tempat kuil berdiri sebagai Hindar. Di kawasan ini, pemujaan berlangsung di antara benda sakral dan orang yang merawatnya. Penghormatan kepada dewi pun menyangkut cara pengunjung memasuki tempat tersebut dan meminta sesuatu dari para penjaganya.
![]() |
| Taman suci Freya di Hindarsfjall. Buku panduan pulau menyebut kunjungan ke taman diatur melalui mother superior. |
The Lonesome World Guide to Hindarsfjall, sebuah buku panduan dalam dunia game, menyebut kuil telah ditutup bagi pengunjung karena kekhawatiran akan pencurian Brisingamen. Dalam gambaran buku itu, taman masih dapat dikunjungi dengan membuat pengaturan terlebih dahulu bersama mother superior. Akses ke kuil yang menyimpan benda berharga berbeda dari akses ke taman di sekitarnya, dan keduanya berada dalam pengawasan penjaga tempat suci.
Buku tersebut juga mencatat kesepakatan lama antara priestess di pulau itu dan komunitas penyembah Freya di Poviss. Komunitas di Poviss menawarkan paket kunjungan yang disebut cocok bagi keluarga dengan anak-anak atau orang lanjut usia. Pemujaan Freya dengan demikian menjangkau luar Hindarsfjall, melalui perjalanan yang tetap perlu diatur bersama penjaga tempat suci. Gambaran dalam buku panduan itu perlu dibedakan dari taman yang dikuasai Morkvarg dalam quest. Tawaran kunjungan dalam teks tidak berarti taman masih aman untuk didatangi.
Persoalan izin juga muncul dalam konteks novel. Dalam The Tower of the Swallow, bab 9, Yennefer membutuhkan permata Brisingamen untuk membantu pencariannya terhadap Ciri. Crach an Craite tidak bersedia mengerahkan pasukan untuk mengambilnya. Ia menghormati kuil dan para priestess, sehingga permintaan harus disampaikan kepada mereka. Sikap Crach menunjukkan pengakuan seorang jarl terhadap penjaga tempat suci, tanpa membuktikan aturan politik yang berlaku bagi setiap jarl.
Sigrdrifa menyambut Yennefer dengan mengingat pertolongannya kepada seorang perempuan hamil. Mula-mula, ia mengatakan Brisingamen tidak dapat diberikan karena kalung pada patung dewi tidak dapat dilepas. Kendalanya ada pada benda yang melekat pada patung, sehingga penolakan awal itu belum menunjukkan larangan keagamaan terhadap tujuan Yennefer. Sesudah pengalaman visioner Yennefer, permata tersebut terlepas dan penggunaannya diizinkan. Perubahan keadaan membuka jalan bagi persetujuan penjaga kuil, meskipun pengalaman itu tidak memastikan satu penjelasan tentang cara kuasa dewi bekerja.
Dalam pembanding novel ini, kemampuan mengambil benda suci tidak dengan sendirinya memberi hak untuk menggunakannya. Pasukan atau kemampuan sihir dapat menyediakan cara untuk memperoleh benda tersebut, tetapi Crach tetap mengarahkan permintaan kepada para priestess. Aturan kunjungan taman dalam game memperlihatkan pengakuan serupa pada urusan yang lebih sehari-hari: kedatangan orang luar perlu diatur bersama mereka yang menjaga tempat itu.
Mengabdikan Hidup kepada Freya
Beliefs of Skellige: Freya membedakan orang yang menyembah dewi dari orang yang melayaninya sebagai priestess. Laki-laki dapat menjadi pemuja, sedangkan pelayanan tersebut dikhususkan bagi perempuan. Ketentuan ini mengatur jabatan keagamaan, sehingga tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa seluruh masyarakat Skellige diperintah oleh perempuan.
Pengumuman Freya Calling di Rannvaig memperjelas tuntutan pengabdian itu. Atas nama Mother Sigrdrifa, perempuan belum menikah yang taat dan rajin diajak datang ke kuil di Hindarsfjall untuk mengabdi sepanjang hidup. Calon priestess diminta menyerahkan masa depannya kepada pelayanan, jauh melampaui sebuah tugas sementara.
Dalam quest Free Spirit, pengabdian tersebut menjadi persoalan bagi Ivar, yang mencintai seorang priestess. Sumpah kesucian menghalangi hubungan yang ia inginkan. Ivar kemudian mencari buku yang dapat memberi preseden pembebasan sumpah, agar permintaannya mempunyai dasar di dalam ketentuan yang mengikat kekasihnya.
Sumpah itu mengatur hubungan seorang priestess dengan dewi, tetapi akibatnya juga dirasakan Ivar, yang tidak mengucapkannya. Kewajiban pengabdian seumur hidup menjangkau orang yang kemudian mencintai pelayan Freya.
Batas hubungan itu juga dipertahankan oleh keluarga. Orang yang menyerang Ivar adalah saudara dari perempuan yang dicintainya. Kekerasan tersebut melibatkan seseorang di luar kuil, tetapi game tidak menetapkan serangan itu sebagai perintah priestess atau kebijakan resmi lembaga yang mengatur sumpah.
Penyerahan buku menutup quest tanpa memastikan sumpah dibatalkan atau pasangan itu akhirnya menikah. Pencarian Ivar baru menunjukkan upaya meminta perubahan di dalam ketentuan yang mengikat seorang priestess. Panggilan melayani Freya dengan demikian turut menentukan pilihan hubungan pribadi seorang priestess.
Morkvarg dan Taman yang Tidak Lagi Aman
Tempat dan benda suci juga menuntut tindakan dari orang yang berjanji melindunginya. Dalam The Witcher 2: Assassins of Kings, buku Legend of the Oathbreaker menceritakan tiga putra jarl yang bersumpah mengembalikan benda kuil Freya setelah penjarahan naga Ostreverg. Priestess membantu mereka dengan diagram armor. Namun, saudara tertua melarikan diri dan meninggalkan kedua adiknya menghadapi naga. Dalam legenda tersebut, bantuan kuil dan sumpah pemulihan bertemu dengan pengkhianatan yang membawa akibat terkutuk. Kisah ini memperlihatkan bagaimana kewajiban terhadap kuil diceritakan kepada orang lain, bukan catatan sejarah yang memastikan seluruh peristiwa benar-benar berlangsung.
Ancaman terhadap tempat suci hadir lebih langsung melalui Morkvarg dalam The Witcher 3. Jurnalnya membanggakan penyerangan terhadap priestess, penghancuran monumen, pembakaran buku suci, dan perampasan barang berharga. Dari penuturan pelaku ini, sasaran kekerasannya meliputi manusia yang melayani dewi, benda yang dipuja, serta teks ajaran. Barang berharga dibawa pergi, sedangkan kerusakan ditinggalkan bagi orang yang merawat tempat itu.
Menurut Josta, high priestess Ulve mengutuk Morkvarg saat Ulve sekarat. Penyelidikan dalam In Wolf's Clothing, sebaliknya, dapat mengungkap Einar sebagai orang yang mengutuknya dengan taring terkutuk. Einar adalah bekas rekan Morkvarg. Temuan ini mengoreksi keterangan Josta, sehingga perubahan Morkvarg menjadi werewolf tidak dapat dijadikan bukti bahwa Ulve menghukum penyerangnya secara magis.
Kutukan Morkvarg juga tidak mengembalikan keamanan taman. Ia terkurung di tempat yang telah dirusaknya dan terus mengancam orang di sana. Para priestess kehilangan rekan serta ruang yang mereka rawat, sementara penyerang yang berubah menjadi monster tetap menguasai taman. Hukuman bagi pelaku belum memulihkan kehidupan di tempat yang diserangnya.
Sister Josta lalu meminta bantuan untuk menyingkirkan Morkvarg melalui pengumuman Contract: Morkvarg. Ia menawarkan ketenaran di antara manusia, perkenanan ilahi, dan hadiah dari simpanan kuil. Imbalan yang dapat diberikan kuil disandingkan dengan kehormatan serta harapan religius calon penolong. Perkenanan dewi tetap merupakan janji Josta, bukan hasil yang dipastikan game.
![]() |
| Seorang perempuan berdoa di kawasan suci Freya. |
Selama Morkvarg berada di taman, kesucian tempat itu tidak membuat orang aman untuk masuk. Para penjaga membutuhkan bantuan seseorang yang mampu menghadapi ancaman tersebut. Hubungan dengan orang luar yang semula berupa pengaturan kunjungan kini juga menjadi permintaan untuk memulihkan akses ke tempat mereka sendiri.
Darah di Bawah Pohon Suci
Bagi Skjall, taman yang berbahaya itu menawarkan kesempatan menebus aib. Setelah membantu Ciri, ia dicap pengecut oleh komunitasnya karena dianggap meninggalkan pertahanan desa. Namanya dicabut dan ia disebut Craven. Penilaian sosial itu mendorongnya mencari tindakan yang dapat mengubah kedudukannya di mata orang lain.
Skjall mendatangi taman untuk menghadapi Morkvarg. Geralt menemukan darah dan jejak langkah Skjall di dekat pohon suci, sedangkan panduan Prima menjelaskan darah itu sebagai jejak persembahan yang dibuat dengan melukai diri. Penjelasan tersebut mendukung pembacaan bahwa Skjall memberi persembahan sebelum menghadapi monster. Namun, rincian doanya tidak diketahui, dan kasus ini tidak menetapkan ritual penebusan yang wajib dijalani setiap orang Skellige setelah melakukan kesalahan. Yang jelas, Skjall berusaha memulihkan kehormatannya.
![]() |
| Pohon suci di taman Freya menjadi titik awal penelusuran jejak Skjall. |
Skjall mengalami luka fatal setelah menghadapi monster. Usahanya menjawab tuduhan pengecut berakhir dengan kematian di tempat yang ia datangi untuk menebus aib. Kesucian taman tidak melindunginya dari Morkvarg.
Kematian Skjall memperluas akibat penguasaan Morkvarg atas taman. Bahayanya menjangkau orang yang datang membawa tuntutan dari luar kuil. Aib Skjall dijatuhkan oleh komunitasnya, tetapi upaya penebusannya membawanya ke ruang keagamaan yang telah dirusak orang lain.
Menguras Taman untuk Mencari Ciri
Dalam Nameless, Yennefer membutuhkan keterangan Skjall untuk melanjutkan pencarian Ciri. Kematian pemuda itu membuatnya menarik kekuatan magis taman dan melakukan necromancy, memaksa mayat Skjall memberikan kesaksian. Tubuh yang digerakkan untuk memperoleh informasi itu tidak berarti Skjall kembali sebagai manusia hidup.
Ritual tersebut menghasilkan informasi yang dibutuhkan, tetapi menguras kekuatan magis taman hingga tumbuhannya layu. Para priestess marah atas kerusakan baru ini. Penelantaran akibat ulah Morkvarg telah mengganggu kehidupan di taman, lalu ritual Yennefer menguras dayanya demi pencarian di luar tempat tersebut. Dua kerusakan itu mempunyai penyebab yang berbeda.
Yennefer mencari Ciri yang berada dalam bahaya, sementara saksi yang dapat menjelaskan jejaknya sudah mati. Keadaan mendesak itu menerangkan kesediaannya memakai necromancy. Tujuan menyelamatkan Ciri membedakan ritualnya dari tindakan Morkvarg, yang membanggakan pembunuhan dan penjarahan. Kesamaan tempat yang dirusak tidak menyamakan motif maupun tindakan keduanya.
Bagi Yennefer, taman menyediakan daya untuk memperoleh informasi yang tertutup oleh kematian. Bagi para priestess, tempat tersebut sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka sebelum pencarian Ciri membawa Yennefer ke sana. Perbedaan tujuan antara Yennefer dan Morkvarg tidak menghapus kerusakan yang kini harus dihadapi para penjaga.
Kekuatan untuk mengambil daya taman juga tidak sama dengan persetujuan orang yang menjaganya. Setelah ritual, para priestess menyampaikan kemarahan mereka. Yennefer mengakui kesalahan itu sebagai tanggung jawabnya dan meminta agar Geralt tidak disalahkan. Pengakuannya tidak membuat para priestess menerima tindakan tersebut, ataupun mengembalikan taman yang rusak. Informasi Skjall memungkinkan pencarian berlanjut, sementara kerusakan akibat ritual tetap ditanggung orang yang menjaga taman.
Aturan akses ke tempat suci menjadi lebih berarti ketika dilihat dari akibat ini. Bagi penjaganya, izin menyangkut kesempatan menerima atau menolak penggunaan sumber daya yang kerusakannya akan mereka tanggung. Pengakuan terhadap mereka yang merawat taman tidak berarti priestess mempunyai kuasa hukum atas setiap tindakan di Skellige. Namun, kebutuhan mendesak Yennefer juga belum menjawab tanggung jawab atas kerusakan setelah kebutuhannya terpenuhi.
Pengumuman Larvik, sumpah seorang priestess, dan aturan kunjungan memperlihatkan pelayanan Freya yang memerlukan komitmen berbeda dari tiap pihak. Orang datang untuk mencari bantuan, pembebasan sumpah, penebusan, atau informasi, sedangkan para priestess mengabdikan hidup dan menjaga tempat yang melayani kebutuhan itu. Kepentingan pengunjung dan penjaga dapat bertemu, tetapi tidak selalu sejalan.
Kerusakan taman akhirnya menyangkut lebih dari sebuah lokasi quest. Tempat pemujaan dan pelayanan itu dirawat oleh orang yang tetap tinggal setelah pencarian Ciri berlanjut. Yennefer memperoleh kesaksian Skjall yang dibutuhkan, sedangkan para priestess harus menghadapi akibat ritualnya. Keberhasilan pencarian belum mengembalikan taman yang mereka jaga.



