Eredin: Ketika Wild Hunt Memiliki Raja yang Bisa Dijatuhkan
Eredin kehilangan dukungan seorang pejabatnya sebelum menghadapi duel terakhir dalam The Witcher 3: Wild Hunt. Ge’els, yang mengurus pemerintahan saat sang raja memimpin Wild Hunt ke dunia lain, menarik dukungan setelah mengetahui bagaimana Auberon, penguasa terdahulu, tewas. Pasukan Eredin tetap harus dilawan, tetapi bantuan dari dunia asal tidak lagi terjamin hanya karena ia menyandang mahkota.
Eredin Bréacc Glas adalah elf Aen Elle yang memimpin para penunggang berzirah tengkorak itu. Rombongan yang tampak seperti hantu tersebut merupakan kavaleri yang mengambil manusia sebagai budak dan memburu Ciri untuk memanfaatkan kemampuan lintas dunianya. Perburuan mereka membuat Eredin tampak mampu menjangkau siapa pun. Keputusan Ge’els memperlihatkan batas di balik ancaman itu: alasan para pengikutnya untuk tetap setia tidak selalu sama dengan ambisi sang raja.
![]() |
| Eredin memimpin Wild Hunt, kavaleri Aen Elle yang menjangkau dunia lain untuk berburu dan mengambil budak. |
Dalam novel Andrzej Sapkowski, Eredin sudah memimpin pasukan dan ikut mempertahankan kepentingan Aen Elle. The Witcher 3 menempatkannya sebagai raja yang riwayat perebutan takhtanya dipakai untuk memecah dukungan, lalu menjadikan kematiannya titik akhir perlawanan terhadap Hunt. Konflik kini lebih terpusat pada penguasa yang dapat dijatuhkan, sementara kekejaman pasukannya mempunyai sejarah lebih panjang daripada pemerintahannya.
Mahkota yang Retak sebelum Duel
Auberon Muircetach memerintah Aen Elle sebelum Eredin mengambil kekuasaan. Entri jurnal karakter Auberon dalam game menyatakan bahwa Eredin meracuninya, lalu menyatakan diri sebagai raja. Jalan menuju takhta itu menyimpan rahasia yang dapat merugikan Eredin: salah seorang pejabat terpentingnya masih setia kepada penguasa yang ia bunuh.
Avallac’h melihat peluang melalui kesetiaan Ge’els kepada Auberon. Ge’els tetap memegang jabatan tinggi setelah pergantian raja, sehingga selama penyebab kematian Auberon belum diketahui, ia masih dapat melayani Eredin sekaligus menghormati raja terdahulu. Pengungkapan pembunuhan membuat kedua kesetiaan itu berbenturan.
Dalam Through Time and Space, Ge’els mula-mula mencurigai tuduhan Avallac’h. Corinne Tilly, seorang oneiromancer atau praktisi sihir mimpi, kemudian membantu memperlihatkan kematian Auberon melalui penglihatan. Ge’els sendiri menyatakan bahwa penglihatan semacam itu tidak dapat dipalsukan. Setelah menyaksikannya, ia bersedia menahan dukungan dari dunia Aen Elle. Rahasia suksesi kini memengaruhi bantuan yang dapat diharapkan Eredin.
![]() |
| Penglihatan tentang pembunuhan Auberon memberi Ge’els alasan untuk menarik dukungan dari Eredin. |
Pembunuhan Auberon dalam game tidak hanya disampaikan melalui tuduhan Avallac’h. Entri jurnal karakter Auberon menyebut pelakunya, sedangkan entri Ge’els menjelaskan pencabutan dukungan berdasarkan kesetiaan kepada raja terdahulu. Kedua entri itu menguatkan pengungkapan melalui mimpi. Tafsir bahwa penglihatan tersebut dipalsukan untuk menipu semua pihak membutuhkan dugaan tambahan yang tidak ditetapkan game.
Ge’els dapat merugikan Eredin tanpa merebut takhta. Dengan jabatannya, ia menjamin bahwa Eredin tidak akan mendapat bala bantuan jika memintanya. Ia juga menyarankan penggunaan Sunstone untuk memanggil Naglfar agar Hunt dapat dihadapi di dunia Geralt. Keputusan itu membatasi bantuan bagi Eredin sekaligus memberi lawannya cara menentukan tempat pertempuran. Perintah raja tetap harus dijalankan oleh pejabat yang mempunyai alasan sendiri untuk mematuhinya.
Penarikan dukungan Ge’els tidak memastikan hasil duel. Wild Hunt kehilangan bantuan yang sebelumnya dapat diharapkan, tetapi pasukan yang sudah hadir tetap berbahaya. Pengungkapan pembunuhan Auberon membatasi kekuatan Eredin, sementara kekuatan tempurnya masih harus dihadapi. Perpecahan politik membantu perlawanan tanpa menjadi satu-satunya penentu kemenangan.
Kekejaman sebelum Eredin Menjadi Raja
Dalam The Lady of the Lake, Eredin memimpin Red Riders dan ikut mencegah Ciri meninggalkan dunia Aen Elle. Ia sudah mempunyai wewenang sebagai komandan. Perbandingan dengan game karena itu perlu membedakan kepemimpinan pasukan yang telah dimilikinya dari kedudukan sebagai raja Aen Elle dan kepastian tentang jalan menuju takhta.
Keindahan di sekitar Tir ná Lia berdiri di atas sejarah penaklukan. Ciri menemukan timbunan tulang manusia, dan Ihuarraquax menjelaskan bahwa dunia itu dahulu dihuni manusia yang kemudian dibantai oleh para elf. Manusia yang melayani Aen Elle juga memperlihatkan perbudakan di balik kemegahan mereka. Kekerasan terhadap penduduk dunia lain sudah berlangsung sebelum persoalan pengganti Auberon muncul.
Saat Auberon masih memerintah dalam novel, Red Riders sudah menyerbu dunia lain untuk mengambil manusia sebagai budak. Pasukan itu juga berseteru dengan unicorn, yang kemudian membantu Ciri lolos. Eredin memimpin Red Riders pada masa tersebut. Ia sudah menjalankan kekerasan sebagai komandan, lalu tampil dalam game sebagai raja yang meneruskan kepentingan ekspansionis Aen Elle. Menjadi raja memperbesar kedudukannya dalam sistem yang telah ia layani.
Penahanan Ciri dalam novel melibatkan Auberon dan Avallac’h bersama Eredin. Para elf mengharapkan Ciri menghasilkan keturunan dengan Auberon demi kepentingan mereka terhadap Elder Blood. Kebebasan Ciri ditahan untuk mencapai tujuan itu. Ancaman Eredin menjadi cara langsung mempertahankan pemaksaan yang juga dijalankan melalui kedudukan Auberon sebagai raja dan pengetahuan Avallac’h.
Perbedaan sikap para elf tidak memberi Ciri pilihan yang setara. Rencana dapat disampaikan dengan tenang dan pelarian dihalangi dengan ancaman, sementara keduanya tetap melayani tujuan penahanan yang sama. Ketika Ciri ingin pergi, Eredin berusaha memastikan bahwa kehendak para pemegang kuasa tetap berlaku atas dirinya.
Novel menyisakan ketidakpastian tentang peran Eredin dalam kematian Auberon. Ia menawarkan kepada Ciri sebuah flakon untuk Auberon, tetapi novel tidak memastikan pembunuhan terencana seperti versi game. Ciri menduga ada perebutan takhta, sementara Eredin terkejut ketika mendengar kabar kematian sang raja. Dugaan Ciri bukan pengakuan Eredin, dan keterkejutan Eredin juga tidak memastikan bahwa kematian itu kecelakaan. Kedua kemungkinan tersebut tetap perlu dibedakan dari apa yang benar-benar diketahui.
Ketidakpastian mengenai Auberon tidak meringankan peran Eredin dalam penahanan. Ia mengancam akan melukai Ciri ketika perempuan itu mencoba lolos, meskipun Ciri kemudian berhasil melukainya dan melepaskan diri dari pencegatan. Eredin sudah dapat dilawan secara fisik dalam novel. Perubahan dalam game terletak pada kedudukannya sebagai raja Aen Elle, kepastian tentang suksesi, dan peran kematiannya dalam penyelesaian konflik. Kekerasannya terhadap Ciri tetap nyata, terlepas dari keraguan mengenai pembunuhan Auberon.
The Witcher 3 mempertegas peran Eredin dalam kematian Auberon, lalu menjadikan pembunuhan itu alasan bagi Ge’els untuk menarik dukungan. Persoalan yang dalam novel masih terbuka untuk ditafsirkan kini dapat dipakai untuk bertindak terhadap sang raja. Kepastian tentang masa lalu mempunyai akibat politik dalam konflik yang sedang berlangsung.
Namun, penaklukan, pengambilan budak, dan pemaksaan terhadap Ciri melibatkan kepentingan Aen Elle yang lebih luas. Eredin menyediakan sasaran perlawanan yang jelas melalui kedudukan dan tindakannya sendiri, tetapi menjatuhkannya belum menjelaskan nasib seluruh kepentingan yang pernah ia layani.
Dari Pertanda Kematian ke Pasukan Penyerbu
Dalam The Witcher, King of the Wild Hunt berbicara seolah kematian mengikuti Geralt dan tindakannya membawa kehancuran bagi orang lain. Game berikutnya memperjelas identitas dan kedudukan sosok itu sebagai Eredin, yang belum diuraikan dengan kejelasan serupa dalam game pertama. Ancaman melalui ketakutan terhadap kematian membuat pertemuan dengannya terasa lebih luas daripada konfrontasi dengan seorang pemimpin militer.
Cara King of the Wild Hunt berbicara belum membuktikan bahwa ia adalah kematian itu sendiri. Ia memakai gambaran tentang kematian untuk menekan Geralt, tetapi ucapan tersebut tidak memastikan kuasa mutlak atas semua kematian. Identitas, tujuan, dan cara kerjanya masih perlu dibedakan dari kesan yang ingin ia bangun.
The Witcher 2: Assassins of Kings memberi penjelasan yang lebih konkret melalui ingatan Geralt dan percakapannya dengan Letho. Geralt membedakan penampakan spektral dari para penunggang sebenarnya, elf dari dunia lain yang dapat hadir dengan tubuh fisik. Ia mengingat bahwa mereka dapat dilukai dan berdarah, serta bahwa ia menyerahkan diri untuk membebaskan Yennefer. Hunt dapat berunding demi memperoleh orang yang dibutuhkannya.
![]() |
| Ingatan Geralt dalam The Witcher 2 memperlihatkan bahwa di balik penampakan spektral Hunt terdapat penunggang elf yang dapat terluka dan berdarah. |
Geralt juga tidak menganggap penampakan spektral Hunt sebagai tipuan tanpa akibat. Ia membedakan penampakan itu dari kehadiran tubuh para penunggang, dua cara menjangkau dunia lain yang dapat digunakan kelompok yang sama. Di balik citra rombongan hantu terdapat orang-orang dengan kemampuan perjalanan dan tujuan tertentu.
Dalam The Witcher 3, pasukan itu diperlihatkan sebagai kavaleri elite Aen Elle, yang juga dikenal sebagai Dearg Ruadhri atau Red Riders. Eredin memimpin mereka mengambil manusia sebagai budak. Wild Hunt berasal dari masyarakat elf di dunia lain, tetapi pasukan dan masyarakat asalnya tetap perlu dibedakan. Menyamakan setiap Aen Elle dengan anggota Hunt akan menghapus perbedaan tersebut.
Kebutuhan terhadap Ciri memiliki latar dalam The Lady of the Lake. Aen Elle ingin memulihkan keleluasaan melintasi dunia melalui Gate of the Worlds. Avallac’h menjelaskan Ard Gaeth sebagai gerbang besar dan permanen yang memungkinkan banyak orang melintas, melampaui perjalanan seseorang sendirian. Mereka mengharapkan keturunan Ciri dan Auberon dapat memulihkan kemampuan tersebut. Perjalanan antardunia masih mungkin, meskipun keleluasaan yang dahulu dimiliki Aen Elle telah hilang.
Dalam game, Caranthir dapat memandu para penunggang Hunt melintasi dunia, tetapi kemampuannya belum memenuhi seluruh kebutuhan Eredin. Entri jurnal karakter Eredin tetap menyebut kekuatan Ciri sebagai kunci pembukaan gerbang bagi invasi berskala penuh. Perjalanan rombongan Hunt dan jalan bagi invasi mempunyai skala berbeda. Gerbang besar dan permanen dalam novel membantu menjelaskan perbandingan itu tanpa menetapkan bahwa setiap portal dalam game adalah Ard Gaeth.
Ancaman kehancuran dunia asal Aen Elle memberi tekanan pada rencana Eredin untuk menguasai dunia lain. Kemampuan Ciri dapat melampaui batas perpindahan pasukannya, sehingga ia bergantung pada orang yang terus berusaha menghindarinya. Krisis itu menjelaskan desakan perburuan, tetapi tidak membuktikan bahwa penaklukan merupakan satu-satunya pilihan. Nasib penduduk dunia yang hendak dikuasainya tetap menjadi bagian dari akibat rencana tersebut.
Hunt harus mencapai sasaran, membawa pasukan, dan mempertahankan kemampuan bertempur. Kebutuhan itu membuka peluang untuk mengurangi kekuatan yang sampai ke medan perang. Geralt dapat melawan tubuh para penunggang, sementara kerja sama di antara orang-orang yang menjalankan perburuan juga dapat diganggu.
Dari game pertama hingga ketiga, ancaman yang semula hadir dengan bahasa kematian semakin dapat dipahami melalui orang, tujuan, dan hubungan di baliknya. Penjelasan itu tidak mengharuskan kita menganggap seluruh penampakan awal keliru. Ia memperlihatkan ketergantungan yang dapat dimanfaatkan untuk melawan Eredin.
Raja yang Bergantung pada Orang Lain
Zirah Eredin membuatnya mudah dikenali sebagai pemimpin Hunt, tetapi keahliannya sendiri tidak cukup untuk menjalankan perburuan. Imlerith menyediakan kekuatan tempur, Caranthir memandu para penunggang antardunia, dan Ge’els mengurus pemerintahan selama sang raja pergi. Perlawanan terhadap Eredin karena itu juga melibatkan orang-orang yang menjalankan pekerjaan tersebut.
Avallac’h ikut membentuk keahlian Caranthir. Dalam Caranthir’s Progress, ia menyebut Caranthir sebagai navigator paling terampil yang pernah dilatihnya, sekaligus mengkhawatirkan kecenderungannya mengambil risiko. Ge’els, di sisi lain, mempertahankan jalannya pemerintahan ketika raja berburu. Eredin menggunakan keahlian dan kedudukan orang-orang yang riwayat serta hubungannya melampaui kebutuhan satu pertempuran.
Jabatan Ge’els tidak membuat kesetiaannya sepenuhnya menjadi milik Eredin. Ia tetap menghormati Auberon saat bekerja di bawah penggantinya. Setelah mengetahui penyebab kematian raja terdahulu, Ge’els menggunakan kewenangan yang sebelumnya menguntungkan Eredin untuk menahan bantuan. Kewenangannya tidak berubah, tetapi pengungkapan pembunuhan Auberon mengubah alasan ia memakainya.
![]() |
| Ge’els mengurus pemerintahan ketika Eredin memimpin Hunt ke dunia lain. Kesetiaannya kepada Auberon menjadi dasar penarikan dukungan terhadap Eredin. |
Ge’els tetap tidak berubah menjadi pembela Ciri hanya karena menentang Eredin. Dalam percakapan mereka, Ciri mengingatkan bahwa Ge’els pernah memberi nasihat kepada Eredin tentang apa yang dilakukan terhadap Ciri jika tertangkap. Ia juga mengingatkan kekerasan Red Riders di Kaer Morhen. Kesetiaan kepada Auberon membantu perlawanan, tetapi tidak menghapus keterlibatan Ge’els dalam kepentingan yang merugikan Ciri.
Avallac’h pun mempunyai kepentingan sendiri. Dalam Remarks Concerning the Death of Auberon, ia memandang kematian sang raja sebagai kehilangan bagi kepemimpinan Aen Elle dan harapan memperbarui Elder Blood. Ia juga mengakui bahwa tekanan yang diberikannya kepada Ciri di Tir ná Lia merusak hubungan mereka. Catatan itu memperlihatkan keterlibatannya dalam pemaksaan terhadap Ciri, sehingga keterangannya tentang Eredin tetap perlu ditimbang bersama tindakan dan sumber lain.
Keterlibatan Avallac’h tidak otomatis membatalkan setiap keterangannya. Pembunuhan Auberon mendapat dukungan dari sumber lain dalam game. Kita dapat menerima pengungkapan itu sambil tetap memeriksa kepentingan pembawanya, tanpa menganggap Avallac’h selalu jujur atau seluruh bantuannya bebas dari keinginan memanfaatkan Ciri.
Eredin tetap berbahaya meskipun kekuasaannya bergantung pada orang lain. Serangan langsung ke Kaer Morhen hampir berhasil sebelum ledakan kekuatan Ciri memaksa Hunt mundur. Kerentanan politik memberi peluang untuk melemahkannya, tetapi orang-orang yang melawan pasukannya masih menghadapi ancaman militer yang nyata.
Cara melemahkan orang-orang di sekitar Eredin berbeda-beda. Geralt sudah membunuh Imlerith di Bald Mountain sebelum usaha menarik Ge’els dilakukan. Pada pertempuran terakhir, Ciri lebih dahulu menghadapi Caranthir, lalu Geralt membunuh navigator itu sebelum berduel dengan Eredin. Ge’els menahan dukungan, sedangkan dua pemimpin tempur disingkirkan melalui pertempuran. Rangkaian itu melemahkan sang raja tanpa membuktikan bahwa satu tindakan saja memastikan kekalahannya.
Kematian Raja, Bukan Akhir Bencana
Duel terakhir bermula di Naglfar dan berlanjut melewati portal yang dibuka Eredin. Geralt tetap mengejarnya dan akhirnya membunuhnya. Sosok yang hadir dengan citra kematian kini mempunyai kematian sendiri. Perlawanan terhadap Hunt mencapai titik akhir yang terlihat pada tubuh pemimpinnya.
![]() |
| Setelah kalah dalam duel, Eredin menyampaikan tuduhan terakhirnya terhadap Avallac’h. Kematiannya belum menyelesaikan ancaman White Frost. |
Menjelang akhir, Eredin mengancam akan membunuh Ciri, padahal ia memburu perempuan itu karena membutuhkan kemampuannya. Ancaman tersebut memperlihatkan kekejamannya dalam pertempuran, tetapi tidak menjelaskan bagaimana invasi dapat berlangsung setelah Ciri mati. Game tidak memberi cukup penjelasan untuk menyelaraskan ancaman itu dengan rencananya.
Eredin juga menuduh Avallac’h mempermainkan dirinya dan Geralt, mempertemukan mereka sebagai lawan, lalu pergi membawa Ciri. Ucapan terakhir itu memberi Geralt alasan untuk mencurigai apa yang sedang terjadi. Namun, tuduhan Eredin tetap harus diperiksa melalui kejadian sesudahnya. Ucapan menjelang kematian tidak menjamin bahwa seluruh tuduhannya benar.
Di Tor Gvalch’ca, Ciri mengatakan bahwa Avallac’h membantunya membuka jalan atas permintaan Ciri sendiri. Keterangan itu membatasi tuduhan bahwa ia sekadar dibawa pergi sebagai bagian dari pengkhianatan. Ciri juga menegaskan bahwa kekalahan Wild Hunt belum menyelesaikan White Frost. Kematian Eredin menghentikan pemimpin perburuan, sementara ancaman terhadap dunia-dunia tersebut masih memerlukan tindakan lain.
Game tidak menyatakan bahwa masyarakat Aen Elle ikut musnah atau setiap kepentingan terhadap Ciri lenyap bersama Eredin. Perubahan perannya dari komandan dalam novel menjadi raja dalam game membuat penyelesaian perburuan lebih terpusat pada dirinya. Pengungkapan pembunuhan Auberon memisahkannya dari dukungan Ge’els, lalu duel mengakhiri hidupnya. Kedua hasil itu tetap berbeda dari berakhirnya seluruh kepentingan yang pernah ia layani.
Perbandingan dengan novel juga memperlihatkan batas dari kejelasan tersebut. Game memberi jawaban lebih pasti tentang pembunuhan Auberon dan suksesi, sehingga dugaan Ciri tentang perebutan takhta tidak lagi menyisakan ruang tafsir yang sama. Kedudukannya sebagai raja penyerbu semakin jelas, tetapi kejelasan peran itu tidak dengan sendirinya memperdalam pemahaman tentang kehidupan batinnya.
Eredin dalam The Witcher 3 meneruskan kepentingan ekspansionis yang lebih tua sambil menanggung akibat dari caranya merebut takhta. Pembunuhan Auberon membuka jalan untuk memecah dukungan, dan kematian para pemimpin Hunt mengurangi kekuatan di sekitarnya sebelum duel. Geralt akhirnya menghentikan raja yang memburu Ciri. White Frost yang masih harus dihadapi sesudahnya menunjukkan batas kemenangan itu: pemimpin perburuan telah jatuh, sementara ancaman yang mendesaknya menaklukkan dunia lain belum selesai.




