Di dekat Kaer Morhen, catatan terakhir mage Hieronymus berakhir bukan dengan kisah kemenangan atau kekalahan, melainkan dengan harapan agar seseorang menemukan diagram perlengkapan yang ia bawa. Massa telah mencapai menaranya. Ia melompat ke portal yang belum stabil untuk menghindari mereka, lalu terdampar dalam keadaan sekarat. Dalam The Witcher 3: Wild Hunt, satu jejak ini memberi gambaran tentang serangan lama terhadap benteng School of Wolf, tetapi tidak menjelaskan seluruh pertempuran.
Pogrom Kaer Morhen sering diringkas sebagai hari ketika massa menghancurkan benteng dan mengakhiri kejayaan para witcher. Jejak dalam game menunjukkan peristiwa yang lebih rumit. Pamflet dan orang-orang yang menyebarkannya membantu mengubah kebencian menjadi serangan. Penyerbu mencapai beberapa bagian kompleks, membunuh penghuninya, termasuk seorang murid, dan memutus pekerjaan yang sebelumnya berlangsung di sana. Namun, catatan yang tersisa berasal dari orang-orang dengan jangkauan pandang terbatas. Benteng yang rusak dapat disaksikan, sedangkan urutan lengkap kejatuhannya tidak.
![]() |
| Kaer Morhen masih berdiri, meski sebagian bangunan di kompleksnya telah menjadi reruntuhan. |
Kaer Morhen Sebelum Bunyi Tanda Bahaya
Jurnal Varin, yang ditemukan dalam pencarian perlengkapan School of Wolf, memperlihatkan Kaer Morhen ketika benteng itu masih melatih calon witcher. Varin mengurus para murid dan menilai rancangan perlengkapan yang pernah dibuat Elgar. Ia ingin setiap witcher baru mendapatkan peralatan yang layak. Rencana itu menuntut kerja beberapa orang: Varin akan menempa pedang baja, Chird menyiapkan diagram pedang perak di menara lama, dan Hieronymus mengerjakan rancangan pelindung tubuh di menara lain.
Hubungan mereka tidak sepenuhnya akur. Varin mengeluhkan mage yang tinggal di benteng itu, tetapi mengakui keahlian Chird, asisten Hieronymus, dalam urusan logam. Justru rincian kerja yang biasa ini penting. Menjelang serangan, Kaer Morhen bukan sekadar tempat para witcher berlindung di musim dingin. Ada murid yang diajar, perlengkapan yang dirancang, dan orang-orang yang bekerja di beberapa bangunan di sekitar benteng utama.
Baris terakhir jurnal Varin berubah mendadak. Ia mendengar bunyi terompet tanda bahaya dari kejauhan, lalu meragukan pendengarannya sendiri. Ia tidak mencatat siapa yang meniupnya ataupun berapa lama kemudian penyerbu datang. Catatan itu berhenti tepat ketika pekerjaan sehari-hari berhadapan dengan sesuatu yang menurut Varin nyaris tidak mungkin: orang menyerang benteng yang dihuni witcher.
Varin mengira benteng penuh witcher tak mungkin diserang. Mengapa massa tetap datang dan bagaimana mereka mencapai bangunan-bangunan di kompleks itu tidak terjawab oleh jurnalnya. Vesemir belakangan menyebut hasutan serta bantuan sorcerer, tetapi ketiga catatan tersebut tidak memperlihatkan cara bantuan itu bekerja.
Bagaimana Pamflet Menggerakkan Massa
Jejak Monstrum, or a Portrayal of Witchers dalam game perlu dibedakan menurut jilid dan tempat ditemukannya. Dalam The Witcher 3, jilid kedua dapat ditemukan di Kaer Morhen. Isinya menuduh witcher menikmati penderitaan orang lain. Seruan terang-terangan untuk memusnahkan Kaer Morhen ada dalam jilid pertama, yang dapat ditemukan di tempat lain dalam game. Dalam The Witcher pertama, salinan pamflet dengan seruan itu memang tersedia di benteng. Perbedaan lokasi dan jilid ini tidak mengubah fungsi hasutannya: teks tersebut memberi bahasa untuk menjadikan witcher sasaran, bukan gambaran tepercaya tentang orang yang dituduhnya.
Dalam game pertama, The Witcher, Vesemir mengenang bahwa selebaran berisi kebohongan dibacakan kepada para petani oleh orang-orang yang sengaja dikirim untuk itu. Keterangan tersebut memberi penghubung antara tulisan dan kerumunan yang tiba di Kaer Morhen. Pamflet menyediakan sasaran dan alasan yang mudah diulang. Orang yang membacakannya membuat pesan itu menjangkau mereka yang tidak dapat membaca sendiri. Vesemir menyebut bantuan sorcerer dalam serangan, tetapi tidak memberi nama penyusun pamflet atau penyandang dana massa itu.
Novel Sapkowski memberi konteks lain, dengan batas kontinuitasnya sendiri. Dalam Blood of Elves, Triss mengingat bahwa Monstrum ikut mendorong para fanatik menuju kekerasan. Rozdroże kruków menuturkan bagaimana salinannya beredar dan dibacakan dalam pertemuan desa, sementara segala macam kesulitan sehari-hari dibebankan kepada witcher. Rangkaian ini menjelaskan cara hasutan mendapat pendengar dan musuh yang jelas. Novel tidak dapat dipakai untuk menetapkan identitas penggerak di dunia game ketika game tidak menyatakannya.
Mother Assumpta dalam Rozdroże kruków mula-mula mencurigai mage dari Ban Ard karena mereka memiliki sarana untuk mencetak pamflet, tetapi mengakui belum memiliki bukti. Ringkasan alur SuperSummary dan catatan yang merujuk halaman novel menguraikan petunjuk sesudah kesaksian itu: Geralt menemukan salinan Monstrum dengan lambang burung martlet, lalu melihat lambang yang sama di kediaman Artamon dari Asguth, dekan Akademi Sihir Ban Ard. Geralt menyimpulkan bahwa Artamon adalah penulis pamflet anonim tersebut. Ringkasan alur itu juga mengaitkan permusuhan Artamon dan Cervia Herrada de Graffiacane terhadap witcher dengan kematian putra mereka, yang menurut kabar dibunuh seorang witcher.
Artamon merupakan identitas yang disimpulkan Geralt dalam rangkaian novel, bukan nama yang diberikan Assumpta saat ia berbicara. Dokumen The Witcher 3 dan kesaksian Vesemir dalam game pertama tidak mengidentifikasi penulis pamflet ataupun penyandang dana penyerang dalam versi game.
Kerumunan dalam kesaksian Chird bukan sekelompok pemburu monster yang memiliki sengketa langsung dengan Kaer Morhen. Ia melihat para petani bersenjata alat pertanian. Hubungan antara pamflet, orang yang membacakannya, dan mereka yang datang bersenjata tampak kuat dalam kesaksian Vesemir, tetapi siapa yang mengatur seluruh operasi itu tetap melampaui dokumen yang ditemukan Geralt di sekitar benteng.
Serangan dalam Catatan Varin, Chird, dan Hieronymus
Chird sedang bekerja pada diagram pedang perak ketika penyerbu datang. Dalam jurnalnya, ia menulis bahwa para petani telah menyerbu kompleks Kaer Morhen. Ia membarikade pintu menara lama dan berharap Varin datang bersama para murid untuk menyelamatkannya. Ia juga khawatir Hieronymus, yang sibuk di menara sinyal, belum menyadari bahaya. Harapan Chird tidak membuktikan bahwa Varin masih sempat mengumpulkan murid atau membalikkan keadaan. Jurnal itu hanya merekam apa yang Chird ketahui saat ia berlindung.
Catatan Hieronymus melanjutkan gambaran dari tempat lain. Massa masuk ke menara sinyal dan memutus jalan menuju kristal yang diperlukan untuk menstabilkan portal. Ia memilih melompat melalui portal dengan satu kristal aktif daripada tinggal menghadapi penyerbu. Di sisi lain, tubuhnya terluka parah. Ia membawa diagram perlengkapan dan berharap Varin kelak dapat menemukannya. Kematian seorang mage yang masih bekerja dengan Varin memperlihatkan kerugian yang lebih khusus daripada dinding yang runtuh: pekerjaan dan orang yang menguasainya terputus di tengah jalan.
Ketiga catatan itu tidak tersusun sebagai laporan dari seorang komandan. Varin hanya mendengar peringatan. Chird terkurung di menara lama. Hieronymus mengetahui apa yang terjadi di menaranya, lalu nyaris tidak dapat bergerak sesudah melarikan diri. Bersama-sama, kesaksian mereka memastikan bahwa serangan mencapai bangunan yang dipakai untuk melatih dan memperlengkapi witcher. Tidak satu pun dapat menunjukkan setiap jalan masuk, seluruh korban, atau gerak pasukan di benteng inti.
![]() |
| Dari menara sinyal ini, Hieronymus mencatat kedatangan massa sebelum melarikan diri melalui portal. |
Quest The Bastion menambah jejak lain. Dengan lampu Keira, Geralt melihat kilasan latihan seorang anak yang hendak menjadi witcher. Jasad anak itu ditemukan di bastion, dan jurnal quest menghubungkan kematiannya dengan serangan para fanatik. Ia bukan angka tanpa wajah dalam perkiraan korban. Di bangunan yang dahulu dipakai untuk berlatih, seseorang yang sedang disiapkan untuk masa depan School of Wolf tidak pernah meninggalkan tempat itu sebagai witcher.
![]() |
| Jurnal The Bastion menghubungkan kematian seorang murid di bangunan ini dengan serangan terhadap Kaer Morhen. |
Kesaksian Vesemir dan Dua Versi Akhir Pertempuran
Vesemir dalam The Witcher memberi cakupan yang tidak dimiliki tiga catatan tadi. Menurutnya, sebelum pertempuran Kaer Morhen dihuni 23 witcher dan 40 murid. Angka itu menyebut mereka yang menganggap Kaer Morhen sebagai rumah sebelum pertempuran, bukan menyatakan bahwa 63 orang tewas. Dialog tersebut juga bukan sensus lengkap seluruh anggota School of Wolf yang mungkin sedang berada di luar benteng.
Vesemir juga mengatakan massa berjumlah jauh lebih besar, dibantu sorcerer, dan tidak membiarkan murid-murid kecil selamat. Ia mengaku bertahan hidup dengan bersembunyi di antara mayat. Pengalaman ini menjadikannya saksi yang penting, tetapi tuturannya tetap ingatan seorang penyintas yang dibentuk oleh apa yang ia lihat dan alami. Kesaksian itu menguatkan besarnya kekerasan terhadap penghuni Kaer Morhen, bukan memberi daftar korban yang dapat dihitung satu per satu.
Blood of Elves memperlihatkan Triss dan Ciri melintasi parit yang masih menyimpan tulang-belulang. Triss menerangkan bahwa hampir semua witcher yang ada di benteng ketika serangan terjadi tewas, sedangkan mereka yang sedang pergi selamat. Dalam pikirannya, ia menghubungkan keberhasilan para fanatik merebut kastel dengan bantuan mage. Triss menyaksikan bekas peristiwa itu, bukan pertempurannya. Bahkan pengetahuan yang tidak ia ceritakan kepada Ciri perlu dibaca sebagai keyakinan tokoh, bukan laporan langsung dari hari serangan.
Novel yang terbit kemudian, Rozdroże kruków, memberi tuturan yang lebih terperinci lewat Mother Assumpta. Ia menempatkan penyebaran pamflet sekitar musim semi 1192 dan serangan pada musim panas 1194. Menurut perkiraannya, sekitar seratus orang bergerak ke pegunungan dan kurang dari sepertiga kembali. Ia menyebut tujuh nama witcher yang diukir untuk mengenang korban, lalu mengisahkan empat pembela terakhir yang menyatukan kekuatan Sign. Penyerang, katanya, menembus pertahanan luar tetapi mundur tanpa memasuki benteng inti setelah para pembela itu tewas.
Ketujuh nama itu bukan seluruh witcher yang berada di Kaer Morhen. Dalam kisah Assumpta ada delapan witcher ketika serangan terjadi. Yang kedelapan ialah Reyndert, kelak dikenal sebagai Preston Holt. Ia melarikan diri dari pertempuran dan ditemukan dalam keadaan terluka parah oleh para pendeta Melitele. Tujuh lainnya dikenang sebagai korban, termasuk empat pembela terakhir. Ia selamat, tetapi menanggung rasa malu dan keterasingan, lalu mengejar orang-orang yang ia anggap bertanggung jawab. Nasibnya memperlihatkan akibat serangan yang terus berlangsung jauh setelah massa meninggalkan benteng.
Delapan witcher dalam tuturan Assumpta tidak dapat dipertemukan secara aritmetis dengan 23 witcher yang disebut Vesemir. Angka pertama menyangkut mereka yang berada di benteng menurut novel, sedangkan angka kedua menyebut orang-orang yang menganggap Kaer Morhen sebagai rumah sebelum pertempuran dalam game pertama. Keduanya berasal dari kesinambungan yang berbeda. Begitu pula sekitar seratus penyerang adalah perkiraan Assumpta, bukan hitungan yang diberikan Chird saat ia melihat para petani memasuki kompleks.
Rincian tersebut memperkaya sejarah dalam novel, tetapi tidak boleh dipindahkan begitu saja menjadi kronologi resmi The Witcher 3. Bahkan di dalam tradisi buku, tuturan Assumpta menimbulkan pertanyaan terhadap gambaran Triss bahwa para fanatik berhasil merebut kastel. Mungkin keduanya memakai batas yang berbeda antara kompleks luar dan bangunan inti. Teks yang tersedia belum cukup untuk memastikan penyelesaian itu. Assumpta sendiri mengingatkan Geralt bahwa kisah tentang kepahlawanan dapat mempertahankan ingatan sekaligus menggeser kenyataan. Tanggal dan jumlah yang ia berikan harus tetap melekat pada sumbernya.
Perbedaan mengenai Vesemir kini lebih jelas. Dalam The Witcher, ia mengatakan dirinya hadir saat serangan dan menjadi satu-satunya yang selamat di antara mereka yang ada di sana, setelah bersembunyi di antara mayat. Dalam Rozdroże kruków, Assumpta menceritakan bahwa para pendeta tiba sebelum Byrnjolf dan Vesemir kembali bersama para witcher muda. Mereka menemukan banyak mayat dan seorang yang masih hidup: Reyndert. Dalam versi novel, Vesemir berarti tidak berada di benteng ketika serangan itu terjadi.
Gambaran Triss dalam Blood of Elves tentang witcher yang selamat karena sedang pergi dari benteng lebih dekat dengan tuturan Assumpta daripada dengan ingatan Vesemir dalam game. Namun, Reyndert menjadi pengecualian penting: ia berada di sana dan selamat. Kita tidak perlu menjelaskan perbedaan itu dengan menganggap Triss pasti tidak tahu atau Vesemir salah mengingat. Novel dan game memang memberi riwayat pertempuran yang berbeda.
![]() |
| Jejak menara dan murid berasal dari game. Tahun 1192 dan 1194 serta versi bahwa benteng inti bertahan berasal dari Assumpta dalam Rozdroże kruków. Ketuk diagram untuk memperbesar. |
Apa yang Hilang, Apa yang Masih Berjalan
Setelah serangan, Kaer Morhen tetap berdiri, tetapi menara yang dipakai Hieronymus dan Chird menjadi reruntuhan, seorang murid tertinggal di bastion, dan Vesemir mengingat pembantaian para penghuni. Dalam game pertama, ia juga menyebut lima belas witcher yang dahulu tinggal di benteng untuk melatih anak-anak menghadapi Trials. Menurut Vesemir, hanya kelompok itu yang mengetahui rahasia mutasi. Ia lalu menyebut 23 witcher dan 40 murid yang menghuni Kaer Morhen sebelum pertempuran. Dua angka witcher tersebut tidak boleh disamakan begitu saja: tuturannya tidak memastikan bahwa kelima belas orang itu semuanya berada di benteng dan tewas pada hari serangan.
![]() |
| Benteng utama tetap berdiri. Kehilangan para pengajar dan keahlian mereka tidak selalu tampak pada dindingnya. |
Hilangnya pengajar dan orang-orang yang menguasai pekerjaan khusus membuat kelangsungan keahlian School of Wolf jauh lebih rapuh. Namun, mengetahui rahasia mutasi juga berbeda dari mampu menjalankan seluruh proses seorang diri. Eskel mengatakan bahwa Trial of the Grasses memerlukan mage dan sihirnya. Catatan Hieronymus tidak menyebutnya sebagai satu-satunya pemegang rumus mutasi. Bukti yang ada tidak menetapkan bahwa semua pengetahuan dan kemampuan itu lenyap pada satu hari yang sama.
Dalam kontinuitas novel, Rozdroże kruków menempatkan serangan pada 1194. Sekitar tiga puluh lima tahun kemudian, Geralt yang baru berusia sekitar delapan belas tahun berangkat menjalani Path pertamanya. Berarti ia lahir sesudah serangan dan telah menjalani mutasi sebelum berangkat. Dalam versi novel, Kaer Morhen masih dapat menghasilkan witcher setelah 1194. Kapan kemampuan itu akhirnya hilang tidak diketahui.
Game pertama memberi batas yang berbeda. Eskel mengatakan mutasi terakhir telah dilakukan sebelum pertempuran lama. Pernyataan itu tidak menjelaskan sendiri mengapa tidak ada mutasi berikutnya. Pada masa yang jauh kemudian, Leo masih belajar anggar di Kaer Morhen, tetapi belum menjalani mutasi. Ia tewas dalam serangan Salamandra, bukan pogrom lama. Dalam Blood of Elves, Ciri juga berlatih tanpa dimutasi. Leo dan Ciri menunjukkan bahwa latihan dapat berlanjut tanpa menghasilkan witcher baru. Geralt muda memberi pembanding yang lebih kuat untuk kronologi novel: penciptaan witcher masih berlangsung setelah 1194.
Pada masa Ciri dalam Blood of Elves, Triss mengetahui bahwa laboratorium, herba, Grasses, dan resep masih ada, tetapi tidak ada lagi mage dengan pengetahuan dan kemampuan untuk mengendalikan Changes seperti dahulu. Jika dibaca bersama kisah Geralt muda, novel memperlihatkan putusnya kemampuan itu sebagai perkembangan sesudah pogrom, tanpa memberi tanggal yang pasti. Peran Vesemir sebagai pengajar dan batas keahliannya dibahas lebih jauh dalam artikel tentang Vesemir. Bagi sejarah serangan ini, kerusakan fasilitas, kematian orang-orang terampil, terhentinya mutasi, dan berlanjutnya latihan perlu dibedakan.
The Witcher 2: Assassins of Kings masih memuat Monstrum, sementara entri jurnalnya menggambarkan witcher sebagai kelompok yang kian jarang tanpa membuka rahasia pelatihan mereka. Game kedua menjaga ingatan tentang stigma dan kemunduran, tetapi tidak memberi laporan baru yang memastikan berapa penyerang mencapai gerbang atau siapa yang membunuh tiap korban. Karena itu, ia menambah konteks akibat, bukan menutup kekosongan dalam rekonstruksi pertempuran.
Pogrom Kaer Morhen menghancurkan jauh lebih banyak daripada batu. Jejak dalam The Witcher 3 memperlihatkan orang yang masih mengajar dan bekerja sebelum penyerbu mencapai menara-menara mereka. Vesemir dalam game pertama mengingat bagaimana kebencian yang disebarkan melalui pamflet berubah menjadi pembantaian. Novel memberi jejak lain: Geralt menyelidiki asal pamflet, Reyndert hidup dengan rasa malu, dan generasi Geralt membuktikan bahwa penciptaan witcher masih berlangsung sesudah serangan dalam versi Sapkowski. Perbedaan-perbedaan itu tidak menghapus inti peristiwa: serangan mematahkan kehidupan para penghuni Kaer Morhen. Namun, reruntuhannya tidak dapat menceritakan seluruh sejarah itu sendirian.




