Ketika Raja Bran wafat, putranya, Svanrige, tidak langsung mewarisi takhta Skellige. Para jarl harus menentukan siapa yang akan memerintah, sementara keluarga-keluarga berpengaruh berusaha memastikan calon mereka memperoleh dukungan. Kematian seorang raja membuka persaingan yang sudah menjadi bagian dari cara kepulauan itu memilih pemimpin.
Dalam The Witcher 3: Wild Hunt, garis keluarga dan keberanian membuat seseorang layak diperhitungkan, tetapi para jarl dari klan lain harus bersedia mendukungnya. Krisis setelah kematian Bran memperlihatkan bagaimana jasa calon menjadi reputasi, bagaimana tuduhan dapat meruntuhkan nama sebuah klan, dan bagaimana hasilnya diumumkan di hadapan warga. Tiga kemungkinan penguasa pada akhir game lalu menguji batas kesepakatan itu: para jarl dapat mengangkat raja, tetapi tidak selalu dapat menentukan arah pemerintahannya.
Siapa yang Memilih Raja Skellige?
Buku Skellige: Its History and Geography menggambarkan pulau-pulau yang dahulu dihuni klan-klan mandiri. Mereka kemudian bersatu menghadapi ancaman dari luar dan membentuk monarki elektif. Menurut buku itu, raja dipilih dari kalangan jarl, para pemimpin klan. Satu penguasa memimpin kepulauan, tetapi kedudukannya lahir dari masyarakat yang tetap terbagi ke dalam klan-klan dengan pemimpin masing-masing.
Rumusan tersebut memberi titik awal, bukan aturan suksesi yang lengkap. Pada masa setelah Bran, Cerys dan Hjalmar an Craite tampil sebagai calon meskipun keduanya adalah anak seorang jarl, Crach an Craite. Svanrige, putra raja yang baru wafat, juga termasuk calon. Game tidak menjelaskan syarat pencalonan secara terperinci. Karena itu, kalimat dalam buku tadi tidak cukup untuk menyatakan bahwa jabatan jarl merupakan syarat mutlak bagi setiap calon.
Yang lebih jelas ialah peran para jarl dalam menentukan hasil. Jurnal Coronation menyebut mereka berkumpul untuk memilih penerus Bran. Entri karakter Birna bahkan menyebut kebiasaan memilih penguasa melalui suara para jarl, suatu kebiasaan yang ia benci. Buku sejarah tadi juga menyatakan bahwa penduduk Skellige menikmati hak setara tanpa memandang kelahiran, pekerjaan, atau harta. Namun, pernyataan tentang kedudukan warga itu tidak menjelaskan hak suara dalam pemilihan raja. Penduduk hadir menyaksikan penobatan, sedangkan keputusan politik dikaitkan secara khusus dengan para jarl.
Ada jarak antara mengajukan diri, memperoleh dukungan para jarl, dan diakui sebagai penguasa di hadapan warga. Keturunan Bran maupun pengaruh Crach dapat membuka jalan bagi calon, tetapi tidak dengan sendirinya mengisi takhta.
Pada perjamuan duka untuk Bran di Kaer Trolde, para calon menyatakan klaim atas takhta dengan meletakkan senjata di atas meja. Enam nama diajukan: Svanrige, Otrygg an Hindar, Blueboy Lugos, Halbjorn, Hjalmar an Craite, dan Cerys an Craite. Crach menaruh kapak untuk Hjalmar yang tidak hadir. Cerys maju sendiri dan mengejutkan hadirin. Klaim itu diumumkan secara terbuka sebelum para jarl menetapkan siapa yang akan memerintah.
![]() |
| Cerys, Hjalmar, dan Svanrige adalah tiga dari enam calon awal. Diagram membedakan calon, para jarl yang memilih, dan warga yang menyaksikan penobatan. |
Nama Klan, Jasa, dan Dukungan
Crach menunjukkan cara kerja pengaruh itu. Sebagai jarl an Craite dan penguasa Kaer Trolde, ia mempunyai kedudukan untuk mengajukan dirinya sendiri setelah Bran wafat. Jurnal karakternya justru mengatakan ia memilih mendukung Hjalmar, kemudian juga mendukung Cerys saat putrinya menyatakan niat menjadi ratu. Ia tidak harus duduk di takhta agar keluarganya menjadi kekuatan dalam pemilihan.
Dukungan Crach pun tidak cukup jika anak-anaknya tidak memiliki nama di luar rumah mereka. Hjalmar memperoleh kemasyhuran dari ekspedisinya ke Undvik, sementara Cerys membuktikan kemampuannya menghadapi persoalan di Spikeroog. Jurnal King's Gambit menghubungkan pencapaian keduanya dengan meningkatnya peluang mereka meraih takhta. Jasa pribadi memberi para jarl alasan untuk menilai seorang calon, meskipun jasa itu tidak otomatis berubah menjadi suara.
Karena itulah jamuan yang diadakan Crach di Kaer Trolde punya fungsi politik. Para skald akan menyanyikan pencapaian anak-anaknya. Meja yang penuh makanan dan minuman memperlihatkan kemurahan hati serta kekuatan keluarga tuan rumah kepada orang-orang yang belum menentukan sikap. Kehormatan, cerita tentang keberanian, dan kemampuan menerima tamu bertemu dalam satu kesempatan untuk membangun dukungan.
Crach tetap perlu meraih pihak yang ragu meskipun kedua anaknya sudah dikenal karena jasa mereka. Jamuan itu memperlihatkan bahwa reputasi calon harus diterjemahkan menjadi dukungan dari klan-klan yang kelak hidup di bawah pemerintahannya.
Ketika Kehormatan an Craite Menjadi Sengketa
Serangan pada jamuan mengubah modal politik an Craite menjadi sumber kecurigaan. Para tamu, termasuk sejumlah calon takhta, tewas diserang beruang. Hanya Svanrige, Hjalmar, dan Cerys yang tersisa sebagai calon. Para jarl lain menuduh Crach mengatur pembantaian untuk menyingkirkan pesaing anak-anaknya. Sebagai tuan rumah sekaligus ayah dua calon, Crach kini harus menjawab kecurigaan atas peran keluarganya dalam serangan itu.
Di sini kehormatan klan menjadi persoalan yang dapat menentukan apakah seorang calon masih layak dipercaya. Tuduhan terhadap Crach tidak hanya menyangkut keselamatan pribadinya. Kesalahan atau ketidakmampuan membela nama keluarga akan melekat pada Cerys dan Hjalmar. Pemilihan tidak dapat dipisahkan dari penilaian para jarl terhadap orang-orang yang mengajukan calon.
![]() |
| Setelah serangan beruang di jamuan, para jarl menuntut Crach menjelaskan bagaimana beruang bisa masuk ke aula. |
Dua kemungkinan penyelidikan dalam King's Gambit menghasilkan pengetahuan yang berbeda. Jika Cerys dibantu, jejak serangan mengarah kepada Birna, janda Bran dan ibu Svanrige. Kesaksian Svanrige pada pertemuan para jarl membantu menjatuhkan ibunya. Jika Hjalmar yang dibantu, bukti dan pembalasan terhadap para pelaku dapat membersihkan nama an Craite tanpa mengungkap siapa yang memerintahkan pembantaian. Kedua jalur itu tidak boleh digabung menjadi satu rangkaian peristiwa.
Bagi an Craite, pemulihan nama klan dapat mengembalikan peluang politik mereka sekalipun seluruh jaringan di balik serangan belum terungkap. Jalur Cerys mengungkap dalang dan kepentingannya. Jalur Hjalmar memperlihatkan bahwa para jarl dapat kembali menerima keluarga Crach tanpa memperoleh jawaban sejauh itu.
Birna sendiri menentang kebiasaan memilih raja melalui para jarl. Entri karakternya menyebut keinginannya membangun kerajaan turun-temurun yang dimulai dari Svanrige. Keinginan tersebut menjelaskan mengapa garis keluarga menjadi pusat siasatnya, tetapi tidak membuat Svanrige otomatis berhak atas takhta menurut aturan yang berlaku. Justru karena pewarisan itu belum menjadi norma, Birna harus menghadapi calon dan para jarl lain. Hubungan Birna dengan pembantaian terungkap dalam jalur Cerys. Pada jalur Hjalmar, para tokoh tidak memperoleh pengungkapan yang sama.
Penobatan dan Penerimaan yang Tidak Bulat
Pada jalur Cerys atau Hjalmar, pemilihan berujung di bawah pohon ek suci Gedyneith di Ard Skellig. Jurnal Coronation menyebut Hindarsfjall, tetapi lokasi Gedyneith dalam game berada di Ard Skellig. Para jarl berkumpul, sementara wakil klan dan penduduk lain datang menyaksikan penguasa baru. Penobatan menjadikan hasil persaingan antarklan sebagai peristiwa yang dapat dilihat bersama. Tempat suci itu penting sebagai ruang pertemuan dan pengumuman, meskipun game tidak menunjukkan bahwa para druid memiliki hak khusus untuk menetapkan pemenangnya.
![]() |
| Cerys mengucapkan sumpah sebagai ratu di hadapan para jarl dan warga Skellige yang berkumpul di Gedyneith. |
Kesaksian khalayak tidak berarti seluruh orang menerima hasil dengan perasaan yang sama. Ketika Cerys terpilih, sebagian penduduk menyambut harapan akan perdamaian, sedangkan yang lain meragukan apakah ia sanggup menghadapi masa yang genting. Di sini keterangan game tidak serasi: Crach, ketika membicarakan pencalonan Cerys, mengatakan Skellige belum pernah diperintah perempuan, sedangkan jurnal Coronation menyebut perempuan lain pernah menduduki takhtanya. Dengan dua keterangan yang bertentangan itu, status Cerys sebagai ratu pertama tidak dapat dipastikan. Para jarl tetap dapat mengangkatnya di tengah keraguan tersebut.
Ketika Hjalmar terpilih, keberaniannya sebagai pejuang mendapat penghargaan, tetapi keinginannya menghadapi Nilfgaard juga menimbulkan kekhawatiran tentang perang. Di kedua jalur, penobatan menetapkan siapa yang berkuasa tanpa menghapus penilaian yang berbeda-beda tentang arah pemerintahannya. Persetujuan yang cukup untuk memilih seorang raja tidak sama dengan kesepakatan bulat atas setiap keputusannya kelak.
Masih ada jarl yang menolak kedudukan an Craite setelah salah satu anak Crach naik takhta. Ketegangan dengan Madman Lugos pada tahap cerita berikutnya menunjukkan bahwa pengesahan publik tidak membuat semua pemimpin klan seketika patuh. Raja telah dipilih, tetapi hubungan antara mahkota dan para jarl tetap harus dijalani dalam politik sehari-hari.
Tiga Hasil Politik dan Batas Monarki Elektif
Epilog The Witcher 3 memperlihatkan tiga kemungkinan masa depan Skellige yang saling terpisah. Ketiganya bukan riwayat berurutan dari satu kerajaan. Masing-masing memperlihatkan apa yang dapat dilakukan seorang penguasa setelah kekosongan takhta yang ditinggalkan Bran terisi.
Dalam jalur Cerys, kerajaan meninggalkan penjarahan pesisir asing dan mengurus penduduk serta tanahnya sendiri. Skellige menjadi makmur, walaupun kehilangan sebagian ketajaman yang selama ini dibanggakan para perompaknya. Seorang ratu yang terpilih melalui persaingan klan dapat memakai kekuasaannya untuk mengubah prioritas bersama dari serangan ke pengelolaan negeri.
Dalam jalur Hjalmar, berakhirnya perang di Benua tidak menghentikan permusuhannya terhadap Nilfgaard. Ia bertekad menyerang pesisir kekaisaran setiap tahun, sekalipun orang-orang Skellige harus membayar mahal. Keberanian yang membantu membangun reputasinya sebagai calon berlanjut menjadi arah pemerintahan. Para jarl dapat mengangkat seorang pejuang yang mereka hormati, tetapi hasilnya membawa konsekuensi bagi mereka yang harus ikut berlayar dan bertempur.
Jalur Svanrige memperlihatkan perubahan yang lebih mendasar. Jika pembantaian Kaer Trolde terjadi dan an Craite tidak membersihkan nama klan, peluang Cerys dan Hjalmar runtuh sehingga Svanrige naik takhta. Game juga dapat menempatkannya sebagai raja ketika King's Gambit tidak dijalankan. Pembantaian itu bukan syarat bagi setiap versi jalurnya. Birna menginginkan takhta itu untuk garis keluarganya dan berharap mengendalikan putranya. Namun, saat ia hendak menyetujui penyerahan kepada Nilfgaard, Svanrige menolak dengan membunuh utusan kekaisaran di hadapan para jarl. Upaya Birna menempatkannya di takhta tidak membuat Svanrige terus mengikuti kehendak ibunya.
![]() |
| Svanrige berhadapan dengan utusan Nilfgaard di Kaer Trolde. Birna berada di belakangnya saat rencana penyerahan Skellige menghadapi penolakan putranya. |
Epilog menyebut Svanrige memusatkan kekuasaan dan mengubah Skellige menjadi monarki absolut dengan pertumpahan darah di antara bangsanya sendiri. Itu lebih jauh daripada perbedaan kebijakan antara Cerys dan Hjalmar. Dalam kemungkinan ini, seorang raja yang muncul dari sistem pemilihan justru memakai kekuasaannya untuk melemahkan tatanan yang memberi para jarl peran menentukan. Game memperlihatkan arah pemusatan kuasa Svanrige, tetapi tidak menguraikan seluruh hukum suksesi yang berlaku setelahnya.
Ketiga hasil itu tidak menetapkan akibat tunggal bagi monarki elektif. Para jarl menilai jasa calon dan kehormatan keluarganya sebelum satu nama memperoleh mahkota. Dalam jalur Cerys dan Hjalmar, penobatan di Gedyneith mengumumkan pilihan mereka. Jalur Svanrige memperlihatkan batas yang lebih jauh: orang-orang yang mengangkat raja belum tentu dapat mempertahankan peran mereka dalam kerajaan yang kemudian ia bangun.



