Langsung ke konten

Nonhuman di The Witcher 3: Identitas Berbeda di Bawah Satu Label

Dalam sebuah buku yang dapat ditemukan di The Witcher 3: Wild Hunt, penulisnya mengajukan pertanyaan sederhana tentang siapa yang disebut nonhuman. Ia menggambarkan dwarf, halfling, dan elf sebagai makhluk yang menyerupai manusia, lalu melekatkan sifat buruk yang berbeda pada masing-masing kelompok. Teks itu lebih banyak mengungkap prasangka penulisnya daripada kehidupan orang-orang yang dibicarakannya.

Istilah nonhuman memang dapat memudahkan orang menyebut beberapa kelompok sekaligus. Masalah muncul ketika sebutan itu diperlakukan seolah mampu menjelaskan watak, kesetiaan, dan kedudukan semua anggotanya dalam masyarakat. Di dunia The Witcher, pergeseran dari nama kelompok ke label bersama itu terlihat dalam buku, percakapan sehari-hari, hingga keputusan tentang siapa yang dianggap pantas disasar. Untuk memahaminya, kita perlu memperhatikan siapa yang memakai istilah tersebut dan perbedaan apa yang hilang setiap kali istilah itu dipakai.

Satu Istilah untuk Kelompok yang Berbeda

Judul buku tersebut adalah A Portrayal of the Elder Races. Penulisnya memulai dengan mendefinisikan nonhuman dari sudut pandang manusia, lalu membandingkan dwarf dengan hewan penggali tanah, halfling dengan pengerat, dan elf dengan burung pemangsa. Ia menjadikan Scoia’tael sebagai alasan untuk menuduh elf secara umum kejam. Rangkaian itu merupakan karikatur yang sengaja merendahkan, bukan keterangan yang layak diterima sebagai gambaran objektif ketiga kelompok.

Ada dua langkah yang bekerja dalam teks tersebut. Pertama, manusia dijadikan ukuran untuk menentukan siapa yang berada di luar kelompoknya. Kedua, ciri yang dilekatkan kepada seorang atau sekelompok orang diubah menjadi watak bawaan seluruh golongan. Bahkan perbedaan antara elf, dwarf, dan halfling hanya dipakai untuk membuat stereotip yang lebih rinci. Buku itu tidak memberi mereka ruang untuk berbicara tentang diri sendiri.

Tampilan teks A Portrayal of the Elder Races yang menggambarkan dwarf, halfling, dan elf melalui stereotip.
Penulis buku di dalam The Witcher 3 mendefinisikan nonhuman dari sudut pandang manusia, lalu merendahkan beberapa kelompok dengan gambaran yang berbeda.

Buku lain dalam game, Religion and Life, menunjukkan cara berbeda untuk membicarakan kelompok-kelompok itu. Ketika membahas beragam pandangan hidup, penulisnya menyebut manusia, elf, dwarf, halfling, dan gnome secara terpisah, serta mengakui bahwa makhluk berakal lainnya juga dapat memiliki pendapat. Ia tidak sedang menyusun definisi resmi nonhuman. Perbandingannya berguna karena orang dapat membicarakan banyak kelompok tanpa menganggap pengalaman mereka seragam.

Judul buku pertama memuat istilah elder races, sementara isinya memakai kata nonhuman. Pemakaian keduanya dalam satu buku tidak cukup untuk menetapkan bahwa cakupan kedua istilah itu selalu sama. Karena itu, cakupan nonhuman perlu dibaca menurut sumber dan konteksnya, bukan diubah menjadi daftar spesies yang berlaku mutlak di seluruh dunia The Witcher.

Dari Sengketa Pribadi Menjadi Prasangka terhadap Semua

Penggolongan seperti itu tidak hanya muncul dalam buku yang terang-terangan memusuhi mereka. Sebuah pengumuman tentang Vimme Vivaldi menuduh bankir dwarf itu curang saat bermain Gwent. Pengumuman tersebut tidak berhenti pada tuduhan terhadap Vivaldi. Penulisnya menyebut kelicikan sebagai sifat khas nonhuman, seolah satu sengketa kartu sudah cukup untuk menjelaskan watak semua orang yang diberi label itu.

Tidak ada alasan untuk menerima tuduhan anonim itu sebagai fakta tentang Vivaldi. Yang bisa dinilai ialah cara tuduhan itu disusun. Identitas Vivaldi sebagai dwarf dijadikan jembatan menuju prasangka yang lebih luas. Pembaca pengumuman itu tidak hanya diminta menjauhi satu lawan Gwent, tetapi juga diajak mencurigai sebuah golongan.

Pengumuman yang menuduh Vimme Vivaldi curang dalam Gwent dan menyebut kelicikan sebagai ciri nonhuman.
Tuduhan anonim terhadap Vivaldi berubah menjadi prasangka terhadap golongan yang lebih luas. Kecurangan yang dituduhkan kepadanya tidak dibuktikan oleh pengumuman ini.

Peristiwa dalam Warehouse of Woe menuntut pembacaan yang lebih hati-hati. Seorang pedagang manusia berprasangka terhadap pedagang dwarf yang berbagi gudang dengannya. Namun, petunjuk di dalam gudang, termasuk jeruji kandang yang digergaji dan jejak sepatu berukuran dwarf, mengarah pada keterlibatan pedagang dwarf dalam menempatkan nekker di gudang itu. Prasangka si pedagang manusia tidak membuat semua tuduhannya keliru dalam perkara tersebut.

Hal sebaliknya juga berlaku. Menemukan kesalahan seorang pedagang dwarf tidak membuktikan bahwa dwarf, apalagi semua nonhuman, memiliki sifat yang dituduhkan kepada mereka. Geralt dapat memilih apakah akan mengungkap temuannya kepada penjaga atau menutupi keterlibatan pedagang itu. Pilihan tersebut berkaitan dengan satu kejadian dan satu orang. Stereotip muncul saat kesalahan seorang individu dianggap sebagai sifat seluruh golongannya.

Dua perjumpaan di jalanan Novigrad menunjukkan bagaimana identitas elf dapat langsung menentukan perlakuan orang lain. Seorang perempuan elf diganggu saat hendak mengambil air, sedangkan seorang lelaki elf menghadapi kekerasan dari warga. Cara Geralt menghadapi para pelaku bergantung pada pilihan pemain. Perempuan itu menegurnya ketika ia ikut campur, bahkan bila ia bermaksud membantu. Pengalaman mereka tidak semestinya dijadikan kisah sederhana tentang seorang penyelamat yang selalu tahu apa yang dibutuhkan orang yang ditolongnya.

Vimme Vivaldi dan Elihal ditampilkan berdampingan di tempat kerja masing-masing di Novigrad.
Vivaldi dan Elihal mempunyai pekerjaan serta kehidupan yang berbeda. Sebutan nonhuman tidak membuat pengalaman keduanya seragam.

Ketika Label Bersama Memudahkan Penyingkiran

Game pertama menunjukkan bahwa penggolongan juga dapat menentukan tempat tinggal, bukan hanya cara orang berbicara. Manual The Witcher menerangkan bahwa setelah perang, sebuah bagian Old Vizima menjadi permukiman nonhuman. Elf dan dwarf dipindahkan ke sana, baik yang telah berasimilasi maupun yang belum. Perbedaan cara hidup tidak menghalangi pemindahan mereka ke kawasan yang sama.

The Witcher 2: Assassins of Kings memperlihatkan kekerasan yang lebih mendadak di Flotsam, tetapi peristiwanya bergantung pada pilihan Geralt. Apabila Geralt menyerahkan pedang kepada Iorveth saat berhadapan dengan pasukan Roche, kekerasan terhadap nonhuman pecah di kota. Apabila ia menolak, kekerasan tersebut tidak terjadi pada jalur itu. Kekerasan pada cabang pertama menunjukkan bagaimana kelompok yang berbeda dapat menjadi sasaran bersama, tanpa berarti peristiwa itu terjadi pada setiap jalur game.

Dalam The Witcher 3, sasaran persekusi dapat bergeser setelah Now or Never, apabila Geralt membantu para mage meninggalkan Novigrad. Pada jalur tersebut, Radovid dan anggota Witch Hunters di Novigrad beralih menyasar nonhuman. Mage dan nonhuman adalah dua kategori yang berbeda. Pergeseran itu justru memperlihatkan bahwa pihak yang berkuasa dapat mengganti kelompok sasaran tanpa mengubah pola menyalahkan suatu golongan.

Peristiwa di Old Vizima, Flotsam, dan Novigrad bukan hasil dari satu kebijakan yang sama. Yang menghubungkannya ialah akibat dari pengelompokan: perbedaan di antara orang-orang yang disasar tidak selalu diperhitungkan ketika mereka dipindahkan, diserang, atau dijadikan sasaran berikutnya. Masing-masing memiliki pelaku, sebab, dan akibat yang perlu dibahas tersendiri. Untuk persoalan artikel ini, yang penting adalah cara sebuah label kolektif memungkinkan orang yang berlainan identitas dan keadaan disasar sebagai satu golongan.

Ilustrasi tiga panel tentang pemindahan elf dan dwarf di Old Vizima, kekerasan bersyarat di Flotsam, dan perubahan sasaran di Novigrad setelah evakuasi mage.
Ilustrasi konseptual tiga akibat pengelompokan dalam trilogi game. Kekerasan di Flotsam dan perubahan sasaran di Novigrad bergantung pada jalur cerita.

Pengalaman Bersama Tidak Berarti Tujuan Mereka Sama

Orang yang ditempatkan dalam satu golongan dari luar juga dapat memilih untuk bersekutu. Scoia’tael menghimpun pejuang dari lebih dari satu kelompok. Namun, keanggotaan dalam gerakan itu tidak dapat dianggap mewakili setiap elf atau dwarf. Ada yang bergabung dengan perlawanan, menjauhinya, atau melanjutkan hidup di kota menurut keadaan dan kepentingan masing-masing.

Perbedaan tujuan itu tampak dalam jalur Iorveth di The Witcher 2. Para Scoia’tael menuju Vergen, kota dwarf yang menjadi pusat perlawanan terhadap pasukan Kaedwen. Iorveth mula-mula berbicara tentang harapan membangun tanah merdeka bagi elf di Lembah Pontar. Ketika membahas Saskia, ia juga menerima gagasan tentang wilayah tempat dwarf, elf, dan manusia dapat hidup bersama. Sikap itu merupakan pilihan politik dalam keadaan tertentu, bukan bukti bahwa semua elf, dwarf, dan manusia memiliki tujuan yang sama.

Saskia bersama beberapa dwarf dan tokoh lain duduk mengelilingi meja dewan Vergen dalam The Witcher 2.
Dalam jalur Iorveth di The Witcher 2, dewan Vergen mempertemukan tokoh dari kelompok berbeda. Koalisi yang diupayakan Saskia merupakan pilihan politik, bukan kehendak seragam seluruh warga.

Persoalan hidup berdampingan mendapat sudut pandang lain dalam cerpen The Edge of the World di The Last Wish. Di sana, Filavandrel berbicara sebagai pemimpin sekelompok elf yang tersingkir dari Dol Blathanna dan kesulitan memperoleh makanan. Sylvan bernama Torque mengambil benih dan belajar cara bertani dari manusia untuk membantu mereka. Ketika Geralt menawarkan kemungkinan hidup berdampingan dan berdagang, Filavandrel mempertanyakan harga yang harus dibayar jika syarat hidup bersama ditentukan oleh manusia. Itu pendirian Filavandrel dalam percakapan tersebut, bukan jawaban semua elf.

Percakapan tersebut juga tidak menyajikan Filavandrel sebagai tokoh yang selalu benar. Ia dan pengikutnya hendak membunuh Geralt serta Dandelion agar tugas Torque tetap tersembunyi. Geralt menantang keangkuhan dan penolakannya terhadap kemungkinan berdampingan. Cerpen itu memberi ruang bagi alasan Filavandrel tanpa membenarkan ancamannya. Kata nonhuman terlalu umum untuk menjelaskan pilihan seorang tokoh, apalagi seluruh kelompoknya.

Sapkowski, ketika ditanya tentang hubungan elf dan Nilfgaard dalam karya-karyanya, juga menekankan pertimbangan politik dalam aliansi tersebut. Pernyataan pengarang itu membantu membaca konflik tanpa menganggap setiap keputusan elf semata-mata lahir dari kebencian. Namun, konteks novel tidak boleh dipakai untuk menghapus perbedaan peristiwa dan pilihan dalam trilogi game. Filavandrel, Iorveth, dan warga elf Novigrad berada dalam situasi yang berbeda.

Batas Istilah Nonhuman

Pengalaman ditolak tidak otomatis menyatukan semua orang dalam satu golongan. Witcher dapat ditakuti karena mutasi dan profesinya, sedangkan mage dapat menjadi sasaran perburuan karena sihir serta kedudukan mereka. Keduanya tidak perlu disebut nonhuman hanya untuk menunjukkan bahwa dunia ini juga memperlakukan mereka dengan curiga. Perbedaan antara para mage yang melarikan diri dan nonhuman yang kemudian diburu di Novigrad justru penting bagi urutan peristiwanya.

Kehati-hatian yang sama diperlukan saat membahas doppler, godling, troll, dryad, dan makhluk berakal lain. Mereka tidak otomatis memiliki pengalaman sosial yang sama dengan elf atau dwarf hanya karena bukan manusia dalam pengertian harfiah. Jika suatu sumber memakai istilah nonhuman untuk mereka, pemakaiannya dapat dibahas menurut konteks itu. Tanpa sumber demikian, memperpanjang daftar hanya akan mengulang kesalahan yang hendak diperiksa artikel ini.

Karena itu, nonhuman tetap berguna sebagai istilah di dunia The Witcher, tetapi ia tidak boleh dibiarkan menggantikan orang-orang yang disebutnya. Buku propaganda, tuduhan terhadap Vivaldi, dan keputusan untuk menyasar sebuah kelompok menunjukkan betapa jauh sebuah label dapat bekerja. Sementara itu, Filavandrel, Iorveth, pedagang dwarf di gudang, dan dua warga elf di jalan Novigrad mengingatkan bahwa di balik label yang sama selalu ada tindakan, kepentingan, serta keadaan yang harus dibaca satu per satu.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama