Langsung ke konten

School of the Viper di The Witcher 3: Kingslayer dan Janji Emhyr

Di sebuah rumah kosong di Velen, Letho memasang perangkap dan menunggu orang-orang yang hendak membunuhnya. Witcher dari School of the Viper itu pernah menjalankan operasi untuk Kaisar Emhyr var Emreis. Kini, menurut Letho, sang kaisar menganggapnya saksi yang perlu disingkirkan. Adegan dalam The Witcher 3: Wild Hunt ini hanya terjadi bila Letho selamat dari akhir The Witcher 2: Assassins of Kings, tetapi memperlihatkan akibat politik dari pekerjaan yang ia terima.

Letho dikenal sebagai kingslayer, pembunuh raja. Sebutan itu mudah membuat School of the Viper tampak seperti organisasi yang sejak awal didirikan untuk membunuh penguasa. Jejak sekolah dalam game justru menceritakan sejarah yang lebih panjang. Ketika institusi itu runtuh, janji Emhyr untuk membangunnya kembali memberi Letho alasan menerima misi di Utara. Hubungan dengan kekaisaran lahir dari harapan para witcher yang tersisa, lalu berakhir dengan Letho diburu dalam cabang cerita tersebut.

Letho di dekat bangunan kayu, dengan bekas luka di kepala dan mata witcher berwarna kuning.
Letho bersembunyi di Reardon Manor dalam cabang The Witcher 3 ketika ia selamat dari akhir game kedua.

Jejak Sekolah di Luar Operasi Letho

Di White Orchard, pencarian diagram pedang Viper mengungkap nasib Kolgrim. Laporan pemeriksaan menyebut ia ditahan atas tuduhan menculik anak seorang peternak lebah. Diagram pedang yang ditemukan pada dirinya turut diperlakukan sebagai benda mencurigakan. Kolgrim meminta pengadilan dengan cara membersihkan ruang makam keluarga bangsawan setempat dari specter. Ia tidak pernah keluar. Belakangan, penyelidik mengetahui bahwa drowner, bukan Kolgrim, yang menyebabkan anak itu hilang.

Surat pada jasad Kolgrim ditujukan kepada Ivar Evil-Eye, yang ia sapa sebagai pemimpin School of the Viper. Kolgrim telah mencari diagram milik sekolah dan berharap bisa kembali ke benteng untuk menempa senjata. Surat tersebut memperlihatkan hubungan antara seorang witcher yang berada di jalan, pemimpinnya, perlengkapan yang hendak dikumpulkan, dan tempat untuk mengerjakannya. Tidak ada tanggal yang memastikan kapan Kolgrim menulisnya. Tulang-belulang di makam itu juga tidak membuktikan bahwa sekolah masih berjalan pada masa peristiwa The Witcher 3.

Kapel batu di pemakaman White Orchard saat matahari terbenam, dengan pintu masuk di bagian depan.
Di ruang makam dekat kapel White Orchard, Kolgrim meninggalkan surat untuk pemimpin School of the Viper.

Materi GWENT: The Witcher Card Game memperluas gambaran institusi tersebut. Rangkaian kartu resmi CD Projekt Red menggambarkan Gorthur Gvaed sebagai benteng tempat murid Viper dilatih dan menyimpan banyak manuskrip mengenai Wild Hunt. Murid diajari bertarung dengan dua bilah pedang, menghadapi monster ataupun manusia. Gambaran mentornya keras: seorang murid memelihara hewan selama bertahun-tahun, lalu diperintahkan membunuhnya menjelang kelulusan. Rincian ini menunjukkan bentuk pendidikan yang brutal, tetapi tidak menjadikan setiap lulusan pembunuh raja.

Kolase olahan kartu Gorthur Gvaed: ilustrasi benteng berkabut di kiri dan teks kartu GWENT di kanan.
Kolase olahan kartu Gorthur Gvaed dari GWENT. Teks di sisi kanan menyebut manuskrip tentang Wild Hunt yang tersimpan di benteng Viper.

Dalam percakapan di akhir The Witcher 2, Letho mengatakan bahwa sekolahnya menyimpan begitu banyak buku tentang Wild Hunt sehingga ia dahulu menduga sekolah itu didirikan untuk menyelidiki para penunggang tersebut. Kisah Ivar dalam Reward Book GWENT melangkah lebih jauh: menurut teks itu, Ivar mendirikan School of the Viper untuk mencari dan mengalahkan Wild Hunt. Ini memberi tujuan pendirian yang lebih jelas daripada dugaan Letho, tetapi berasal dari materi GWENT yang ditulis kemudian. Reward Book juga mengisahkan kejatuhan Gorthur Gvaed oleh pasukan Usurper. Teks itu tidak menjelaskan alasan penyerangan benteng tersebut.

Riwayat Viper ini terutama dibangun oleh game. Ketika ditanya mengenai banyaknya sekolah witcher dalam adaptasi, Andrzej Sapkowski menjelaskan bahwa ia pernah menyebut School of the Wolf dalam The Last Wish, lalu tidak mengembangkan konsep sekolah-sekolah itu dalam buku berikutnya. The Last Wish adalah kumpulan cerita pendek, dan komentar pengarang tersebut menjelaskan asal konsep, bukan menambahkan sejarah Viper ke dalam novel. Karena itu, surat Kolgrim, dialog Letho, dan materi GWENT perlu dibaca sebagai lapisan yang berbeda dalam kesinambungan game.

Janji Membangun Kembali Sekolah

Arsip tentang Wild Hunt di Gorthur Gvaed mempunyai kelanjutan dalam pengalaman Letho. Ia dan rekan-rekan Viper membantu Geralt mengikuti jejak para penunggang itu. Dalam kilas balik The Witcher 2, mereka menghadang Hunt di Hanged Man's Tree pada Midinváerne 1270, ketika Yennefer berada di antara orang-orang yang ditawan. Pertarungan tidak membebaskannya. Geralt lalu menyerahkan dirinya kepada pemimpin Hunt sebagai ganti Yennefer. Pengalaman itu memperlihatkan kegunaan pengetahuan yang disimpan sekolah, sekaligus membuka jalan bagi pertemuan Letho dengan kekuasaan Nilfgaard.

Menurut Letho, Yennefer demam dan mengigau selama beberapa hari setelah pertukaran itu. Ia pulih, tetapi kehilangan ingatan. Letho, Serrit, dan Auckes membawanya melintasi wilayah kekaisaran dan beberapa kali membantunya ketika ia mendapat masalah. Polisi rahasia Nilfgaard akhirnya menangkap serta memeriksa mereka. Letho mengatakan bahwa dari peristiwa itulah ia bertemu Vattier de Rideaux, lalu beberapa pekan kemudian Emhyr. Letho tidak menjelaskan alasan penangkapan itu. Perburuan Wild Hunt membawanya ke hadapan kaisar, tetapi belum menjelaskan mengapa ia bersedia menerima misi dari Emhyr.

Jawabannya ada pada keadaan sekolah. Menurut penuturan Letho di akhir The Witcher 2, sekolah-sekolah witcher di selatan telah runtuh dan para witcher yang tersisa menjadi orang tersisih, bahkan dilarang memasuki banyak kota. Emhyr menawarkan misi di kerajaan-kerajaan Utara. Imbalan yang Letho sebut adalah janji untuk membangun kembali School of the Viper.

Alasan itu bersifat pribadi sekaligus institusional. Letho tidak hanya meminta keselamatan atau upah bagi dirinya. Ia membayangkan para witcher Viper dapat berhenti bersembunyi dan pulang. Selain Serrit dan Auckes, dua rekannya dalam operasi, ia mengetahui dua Viper lain yang menurutnya semestinya masih hidup. Ia tidak tahu di mana mereka berada dan sudah bertahun-tahun tidak bertemu. Harapan untuk mengumpulkan mereka kembali tidak sama dengan bukti bahwa sekolah telah pulih.

Di sini letak pertaruhannya. Letho dapat menjalankan operasi pembunuhan, tetapi tidak dapat memulihkan sebuah institusi sendirian. Benteng, para witcher yang tercerai-berai, dan kemungkinan melatih generasi baru tetap bergantung pada tindakan lebih lanjut di luar jangkauannya. Game tidak merinci bentuk perjanjian maupun rencana nyata Emhyr untuk membangun sekolah. Yang diketahui dari dialog ialah janji sebagaimana disampaikan Letho dan tindakan yang ia lakukan sesudah menerimanya.

Pembunuhan Raja sebagai Strategi Perang

Letho menjelaskan tujuan misinya tanpa banyak selubung: membunuh sebanyak mungkin penguasa Utara, menimpakan kesalahan kepada para sorceress, menciptakan kekacauan, dan melemahkan wilayah itu sebelum invasi Nilfgaard. Pembunuhan raja merupakan satu bagian dari rencana. Bagian lainnya adalah membentuk penjelasan politik tentang siapa yang harus disalahkan, sehingga kerajaan-kerajaan Utara saling curiga ketika kekaisaran bersiap menyerang.

Kasus Demavend memperlihatkan cara rencana itu memanfaatkan kepentingan pihak lain. Menurut Letho, sasaran pertama yang ia siapkan semula adalah Esterad Thyssen, Raja Kovir. Síle de Tansarville kemudian meminta pembunuhan Demavend dan memberikan informasi serta dukungan untuk melaksanakannya. Letho menerima kesempatan tersebut karena keterlibatan Síle membuat tuduhan terhadap para sorceress lebih mudah dibangun. Ia juga sengaja terlihat dekat dengan Síle agar hubungan itu dapat ditemukan jika operasi terbongkar. Dengan demikian, pesanan yang tampak menguntungkan Lodge of Sorceresses dipakai untuk tujuan lain yang tidak diketahui pemberi pesanan.

Setelah Demavend tewas, Letho menyusup ke lingkungan Foltest dan membunuh raja Temeria itu. Serrit dan Auckes turut menjalankan operasi, termasuk rencana terhadap Henselt. Hasil tiap pertemuan dan nasib para pelakunya dapat berbeda menurut jalur The Witcher 2. Rencana besar yang dijelaskan Letho tidak mensyaratkan setiap raja terbunuh. Keretakan politik, persaingan klaim, dan tuduhan terhadap para sorceress sudah dapat terus bekerja setelah para pembunuh meninggalkan tempat kejadian.

Letho memakai tudung rahib, wajahnya sebagian tertutup bayangan, dengan teks dialog di bawah gambar.
Letho menyamar sebagai rahib untuk mendekati Foltest dalam The Witcher 2. Pembunuhan raja itu merupakan bagian dari operasi untuk Emhyr.

Namun, tiga orang ini tidak dapat dipakai sebagai gambaran lengkap seluruh School of the Viper. Letho sendiri menyebut dua anggota lain yang tidak ikut bersamanya dan tidak ia temui selama bertahun-tahun. Materi GWENT menampilkan keahlian Viper menggunakan racun dan bertarung melawan manusia, sehingga pekerjaan Letho tidak muncul dari kemampuan yang sama sekali asing bagi tradisi mereka. Sekolah itu juga melatih pemburu monster dan menyimpan pengetahuan tentang Wild Hunt. Keahlian untuk membunuh manusia tidak membuktikan bahwa semua anggotanya menyetujui operasi untuk Emhyr.

Dari Pelaksana Misi Menjadi Buruan

Dalam Ghosts of the Past di The Witcher 3, Letho yang selamat dari Loc Muinne bersembunyi di Reardon Manor. Ia memasang perangkap karena pemburu hadiah mengikutinya. Menurut Letho, Emhyr memutuskan menyingkirkannya sebagai saksi yang merepotkan. Ia mengatakan telah menghadapi orang-orang yang hendak membunuhnya sejak meninggalkan Loc Muinne. Pernyataan itu datang dari orang yang diburu, bukan pengakuan langsung sang kaisar.

Kesaksian lain dalam quest tersebut menguatkan kaitan perburuan dengan kekaisaran. Louis, kenalan yang mengkhianati Letho, mengatakan bahwa orang suruhan bernama Vester menawarkan sebagian hadiah buruan atas kepala Letho dan surat pengampunan dari kaisar. Imbalan itu menjelaskan mengapa Louis menyerahkan tempat persembunyiannya. Letho kemudian berusaha memalsukan kematiannya untuk memutus pengejaran. Kelangsungan hidup, pertemuan di manor, dan kemungkinan ia mencari perlindungan di Kaer Morhen bergantung pada pilihan cerita. Tidak satu pun boleh dijadikan hasil tunggal yang dialami semua pemain.

Perubahan posisi Letho tetap tajam dalam cabang tersebut. Orang yang pernah mengetahui tujuan rahasia operasi kini menjadi saksi yang berbahaya bagi pihak yang mempekerjakannya. The Witcher 3 memperlihatkan ancaman terhadap Letho, tetapi tidak menunjukkan nasib setiap anggota Viper lain ataupun dokumen resmi pembatalan janji Emhyr. Dari perburuan ini saja kita belum dapat menyimpulkan bahwa kaisar membantai seluruh sekolah.

Nasib Sekolah Setelah Perjanjian

Teks naratif Reward Book GWENT tentang Letho menyebut bahwa perjanjiannya dengan Emhyr tidak berhasil membuka kembali School of the Viper. Teks tentang sekolah menyatakan bahwa institusi Viper tidak lagi ada, tetapi juga mengakui penyebab akhirnya tidak diketahui secara pasti. Anggapan bahwa Emhyr menutupnya dan bahwa semua anggota dihukum mati disajikan sebagai dugaan, bukan peristiwa yang diperlihatkan.

Dua batas itu penting. Dialog The Witcher 2 menetapkan janji yang Letho terima. Cabang The Witcher 3 menunjukkan bagaimana ia diburu sesudahnya. Reward Book GWENT menilai bahwa janji tersebut tidak memulihkan sekolah, sambil meninggalkan penyebab akhir keruntuhannya terbuka. Cerita itu tidak menyediakan daftar anggota yang selamat atau tewas, tanggal penutupan, ataupun masa ketika Gorthur Gvaed sempat dibangun kembali. Menambahkan rangkaian peristiwa semacam itu akan mengubah kekosongan sumber menjadi sejarah rekaan.

School of the Viper berhubungan dengan kingslayers karena sebagian witcher-nya, dipimpin Letho, mempertaruhkan masa depan sekolah pada operasi politik Emhyr. Jejak Kolgrim, arsip Wild Hunt, dan tradisi pelatihannya memperlihatkan sekolah yang pernah mempunyai tujuan lebih luas. Ketika benteng dan kedudukannya telah runtuh, janji kekaisaran tampak seperti jalan pulang. Dalam cabang yang mempertemukan Letho dengan pemburu hadiah, jalan itu berakhir pada pelarian seorang saksi. Nasib lengkap institusinya tetap lebih kabur daripada kegagalan pertaruhan yang ia buat.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama